Tangga, Keringat, dan Semangat Gotong Royong: TNI-Polri Bersama Warga Rehab Mushola
Di bawah terik matahari, sebuah tangga kayu menjadi saksi kecil dari semangat kebersamaan. TNI, Polri, dan warga berdiri beriringan, saling membantu dalam proses rehabilitasi mushola.
Suasana sederhana terlihat di tengah aktivitas rehabilitasi sebuah mushola. Beberapa personel TNI dan Polri bersama warga bahu-membahu mengerjakan perbaikan bangunan. Ada yang memegang tangga, ada yang bekerja di bagian atas, sementara lainnya menyiapkan material dan membantu pekerjaan di sekitar bangunan, Sabtu (08/08/2026)
Tidak ada sekat antara seragam dan pakaian warga. Semua melebur dalam satu pekerjaan: memastikan tempat ibadah yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat itu kembali nyaman digunakan.
Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah ketika sejumlah orang bersama-sama memegang dan menopang tangga. Satu orang menaiki tangga untuk mengerjakan bagian bangunan, sementara yang lain memastikan tangga tetap kokoh. Pekerjaan sederhana itu menggambarkan satu hal penting—pekerjaan berat akan terasa lebih ringan ketika dilakukan bersama.
Di sisi bangunan, puing-puing material berserakan menjadi tanda bahwa proses rehabilitasi masih berlangsung. Namun, di balik debu dan panas yang menyengat, semangat gotong royong justru terlihat semakin kuat.
Kehadiran TNI dan Polri bersama masyarakat bukan sekadar membantu pekerjaan fisik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempererat kedekatan aparat dengan warga. Seragam yang biasanya identik dengan tugas dan tanggung jawab, hari itu tampil dalam suasana berbeda: menyatu dengan masyarakat dalam kerja bersama.
Bagi warga, bantuan tenaga menjadi sesuatu yang berarti. Sementara bagi TNI dan Polri, ikut turun tangan dalam rehabilitasi mushola merupakan bagian dari kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.
Tangga yang mereka pegang mungkin terlihat sederhana. Namun dari sana, terlihat sebuah cerita tentang kebersamaan—tentang bagaimana TNI, Polri, dan warga memilih berdiri di sisi yang sama, bekerja bersama, dan menjaga tempat ibadah yang kelak kembali menjadi ruang bagi masyarakat untuk beribadah dan berkumpul.
Dari sebuah tangga, lahir sebuah gambaran tentang gotong royong: ketika tangan yang berbeda bersatu, sebuah bangunan bukan hanya diperbaiki, tetapi juga dirawat bersama sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.